<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4916369108223596888</id><updated>2012-02-16T09:28:19.308-08:00</updated><title type='text'>Kapmepi Bali</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kapmepibali.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4916369108223596888/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kapmepibali.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Kapmepi Bali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15206985610515249464</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>2</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4916369108223596888.post-938409761115546214</id><published>2008-07-15T00:16:00.000-07:00</published><updated>2008-07-15T00:18:31.200-07:00</updated><title type='text'>Jangan Hanya Cerdas Fikrah, Tapi Miskin Moral-Etika</title><content type='html'>&lt;div class="post-info"&gt; &lt;h2 class="post-title"&gt;&lt;a title="Permanent Link: Ustadz Fathuddin Ja’far: Jangan Hanya Cerdas Fikrah, Tapi Miskin Moral-Etika" href="http://hmcahyo.wordpress.com/2008/04/29/ustadz-fathuddin-jafar-jangan-hanya-cerdas-fikrah-tapi-miskin-moral-etika/" rel="bookmark"&gt;Ustadz Fathuddin Ja’far: Jangan Hanya Cerdas Fikrah, Tapi  Miskin Moral-Etika&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div class="post-content"&gt; &lt;div class="snap_preview"&gt; &lt;p&gt;Pendidikan yang berkualitas bagi masyarakat adalah salah satu faktor penting  bagi kemajuan sebuah bangsa. Di Indonesia, sudah menjadi rahasia umum bahwa  sistmen pendidikannya masih carut dan hanya berorientasi pada kecerdasan  intelektual.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tak heran jika yang dihasilkan adalah orang-orang yang cuma cerdas sisi  intelektualnya, tapi tidak diimbangi dengan kecerdasan emosinal apalagi  spiritualnya. Padahal untuk menghadapi tantangan kehidupan yang makin berat dan  sarat persaingan di masa depan, bukan hanya modal intelektual yang  dibutuhkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menurut Ustadz Fathuddin Ja’far MA, untuk menghasilkan seorang Muslim yang  berkualitas dan mampu bersaing di tengah kehidupan yang makin global, perlu  dilakukan pemberdayaan tiga potensi dasar manusia, yaitu akal, pikiran dan  emosi. Dan untuk mencapai keberhasilan ketiga potensi itu menurut Ustadz  Fathuddin adalah, dengan melakukan apa yang ia sebut sebagai Total Management  Spiritual (TMS).&lt;span id="more-336"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam silaturahmi dengan kru Eramuslim, Jumat (25/4), di Jakarta, Ustadz  lulusan LIPIA dan pernah mengenyam pendidikan sekolah tinggi di Pakistan itu  menjelaskan tahap demi tahap model TMS yang mulai dikenalkannya untuk publik  melalui Spiritual Learning Center (SLC) yang dikelolanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tahap dasar dari manajemen spiritual secara total, menurut Ustadz Fathuddin  adalah, manajemen informasi. Pada tahap ini seseorang harus mampu mengelola  berbagai informasi yang bertebaran disekelilingnya dalam konteks keIslaman.  Sehingga orang bersangkutan mengetahui mana yang boleh dan tidak boleh, mana  yang halal dan mana yang haram, mana jalan yang lurus dan mana yang bukan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah tahap ini dilewati, seseorang harus mampu melakukan revolusi terhadap  dirinya sendiri (self revolution), dengan melakukan perubahan terhadap kebiasaan  dan sikap hidupnya untuk menjadi seorang Muslim yang lebih baik, berdasarkan  informasi yang telah diketahuinya. Pada tahap ini, kuncinya, seseorang harus  mampu mengelola nafsu (sahwat) duniawinya dengan menyucikan jiwa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tahap selanjutnya, adalah tahap “advance” di mana orang bisa mencapai derajat  taqwa dengan melakukan seluruh perintah Allah swt dan menjauhi semua  laranganNya. Orang-orang yang bertaqwa selalu merasa bahwa Allah senantiasa  bersama mereka, sehingga mereka mampu mewujudkan apa yang selama ini mereka  anggap mustahil. Oleh sebab itu, Ustadz Fathuddin juga menyebut tahap ini tahap  “mission imposible” dengan melakukan majemen hati.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Terakhir adalah tahap “extraordinary” di mana seseorang selalu ingat pada  Allah swt kapan pun dan di mana pun ia berada, agar terhindar dari godaan  syetan. Orang yang selalu mengingat Allah swt akan menjaga perilakunya, oleh  sebab itu tahap ini disebut juga dengan tahap manajemen perilaku. Cara yang  paling sederhana manajemen perilaku, kata Ustadz Fathuddin adalah dengan selalu  berdzikir menyebut asma Allah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan melalui tahap-tahap ini seseorang diharapkan memiliki intelektualitas,  emosi, dan spiritual yang seimbang dan kuat. Intelektual terkait dengan ilmu  pengetahuan yang dimilikinya, yang bermanfaat untuk orang banyak. Emosional  terkait dengan perilaku dan kebiasaan hidup yang baik, dan spiritual terkait  dengan prinsip hidup dan gaya hidup yang disertai iman yang kuat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Untuk melaksanakan tahapan-tahapan itu, seorang Muslim, tegas Ustadz  Fathuddin harus mampu mengatur waktu dengan baik, menerapkan manajemen waktu  dengan tepat, sehingga tidak ada waktu yang terbuang sia-sia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Seorang Muslim harus paham bahwa tujuan hidup di dunia adalah kehidupan yang  lebih panjang di akhirat kelak, ” ujar Ustadz yang punya rencana membangun  “Spiritual City”, Kota Ilmu dan Peradaban ini. (ln)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;sumber:&lt;br /&gt;http://www.eramuslim.com/berita/slr/8428143540-ustadz-fathuddin-ja039far-jangan-hanya-cerdas-fikrah-tapi-miskin-moral-etika.htm&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4916369108223596888-938409761115546214?l=kapmepibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kapmepibali.blogspot.com/feeds/938409761115546214/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4916369108223596888&amp;postID=938409761115546214' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4916369108223596888/posts/default/938409761115546214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4916369108223596888/posts/default/938409761115546214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kapmepibali.blogspot.com/2008/07/jangan-hanya-cerdas-fikrah-tapi-miskin.html' title='Jangan Hanya Cerdas Fikrah, Tapi Miskin Moral-Etika'/><author><name>Kapmepi Bali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15206985610515249464</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4916369108223596888.post-5086874085545836515</id><published>2008-07-15T00:09:00.000-07:00</published><updated>2008-07-15T00:14:07.289-07:00</updated><title type='text'>Reformasi dan Etika Politik</title><content type='html'>&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;td class="judulbaru" colspan="2" align="center"&gt;&lt;strong&gt;Reformasi dan Etika  Politik&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;Oleh: &lt;b&gt;Abdoel Fattah&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td class="tiny"&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;font-size:85%;"&gt;Reformasi yang digulirkan  pada tahun 1998 telah membawa harapan besar, antara lain tumbuhnya kehidupan  politik termasuk kehidupan demokrasi yang sehat, penyelenggaraan negara yang  baik, bersih, dan stabil, supremesi dan penegakan hukum, pemberantasan KKN,  otonomi daerah, kebebasan pers yang bertanggung jawab, dan terwujudnya  profesionalisme TNI dan Polri yang tidak berdwifungsi lagi.&lt;br /&gt;Sepuluh tahun  era reformasi telah berjalan, namun segala harapan tersebut belum sepenuhnya  terwujud, bahkan masih jauh dari harapan. Orde reformasi yang diharapkan menjadi  orde masyarakat yang terbaik dan menggambarkan nilai-nilai “seharusnya,” masih  mengalami banyak hambatan. Salah satu penyebabnya adalah karena para pelaku  politik (dan ekonomi) telah mengabaikan prinsip moral dan etika politik dalam  sepak terjangnya. Jika politik diartikan sebagai cara yang bijak dan cerdas  untuk mencapai tujuan bersama bangsa, dalam kenyataannya pada saat ini belum  menjadi kenyataan. Jika politik dimaksudkan sebagai perjuangan demi  gagasan-gagasan untuk kepentingan bersama masyarakat, tetapi nampaknya justru  kepentingan pribadi atau kelompok elite politik yang lebih menonjol yang tidak  peka atas nasib rakyat banyak.&lt;br /&gt;Politik memang untuk mencari dan  mempertahankan kekuasaan, masalahnya kekuasaan itu digunakan untuk apa dan  siapa. Politik juga merupakan seni untuk mengabadikan diri manusia seperti  dikatakan oleh Hannah Arendt. Masalahnya pengabadian diri bersifat positif atau  negatif. Apakah melahirkan citra baik atau justru melahirkan citra  jahat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Beberapa Ekses  Reformasi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;font-size:85%;"&gt;Reformasi telah  melahirkan kebebasan. Namun, banyak yang lupa bahwa kebebasan ada batasnya demi  kepentingan bersama masyarakat. Lagi pula kita tidak menganut paham  individualisme dan liberalisme. Jika kebebasan tidak ada batasnya, akan hilang  kebebasan itu sendiri karena dihisap oleh hawa napsu yang bisa mengakibatkan  chaos dan anarki dan malah bisa melahirkan “doomday.” Kebebasan seharusnya tidak  dikendalikan oleh hawa nafsu untuk memenuhi tujuan sesaat dan untuk memenuhi  kehidupan dunia semata yang melupakan tujuan jangka panjang dan tujuan akhir  hidup, apalagi merugikan masyarakat. Oleh karena itu, di samping perlu kemampuan  intelektual untuk memecahkan masalah logika dan rasional, setiap manusia harus  memiliki kecerdasan emosional untuk melihat sesuatu dengan mata hati dan  perasaan, memahami perasaan diri sendiri dan orang lain, membangun empati,  kepedulian sosial, solidaritas, interaksi sosial yang tinggi, dan bersikap  simpatik.&lt;br /&gt;Lebih penting lagi adalah orang harus memiliki kecerdasan spiritual  yang membimbing pada suara hati nurani yang jernih dan mengarahkan kepada al  nafsu al mutmainah, memberikan kekuatan moral, memberikan kepastian tentang  sesuatu yang baik dan yang buruk, serta menyeimbangkan antara hubungan dengan  Tuhan dan antara sesama manusia untuk menempatkan perilaku dan hidup dalam  konteks makna dan nilai, agar hidupnya lebih bermakna, selamat di dunia dan di  akherat. Orang yang memiliki kecerdasan dan kekuatan spiritual, seluruh  perbuataanya ditujukan untuk mengabdi Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, tidak  menghiraukan pujian orang lain karena perbuatannya bukan ditujukan untuk  mendapatkan pujian. Mereka yakin Allah mengetahui perbuatannya dan akan memberi  balasan. Mereka mencari karunia dan keridhoan-Nya untuk meraih kabahagiaan di  dunia dan akherat. Jika hal itu dapat terwujud pada semua orang, termasuk  politisi, alangkan indahnya kehidupan karena manusia akan selalu berbuat baik,  jujur, berbudi pekerti luhur, bekerja keras, berdisiplin, bersemangat tinggi,  dan berakhlak mulia.&lt;br /&gt;Pada saat ini banyak pelaku politik (dan ekonomi) yang  tidak menyadari atau mengabaikan hakekat tujuan hidup, tujuan bermasyarakat, dan  tujuan bernegara sehingga membuat kondisi sangat memprihatinkan. Pada tahun lima  puluhan, Bung Hatta pernah menggambarkan perilaku para politisi antara lain  sebagai berikut: “Segala pergerakan dan semboyan diperalat mereka, partai-partai  ditungganginya untuk mencapai kepentingan mereka sendiri. Maka, timbulah anarki  dalam politik dan ekonomi, kelanjutannya korupsi dan demoralisasi merajalela”  (Feith &amp;amp; Castles, 1988).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;font-size:85%;"&gt;Apakah gambaran itu juga  cocok dengan kondisi saat ini? Jawabannya bisa didapat jika dicermati antara  lain bagaimana kehidupan politik (dan kepartaian); bagaimana perilaku politisi  dan cara meraih kekuasaan serta untuk apa kekuasaan digunakan; bagaimana  kehidupan ekonomi, “politik uang,” KKN; bagaimana kepatuhan terhadap hukum,  tatakrama dan ketaatan pada moral dan etika. Banyaknya penyelenggara negara yang  melakukan KKN, masih maraknya “politik kekerasan,” kebringasan, dan praktik  “politik uang,” merupakan beberapa contoh saja. Ini juga mengindikasikan bahwa  penegakan hukum belum sepenuhnya berhasil, bahkan masih banyak aparat penegak  hukum sendiri tidak bersih yang melanggar hukum. Sementara otonomi daerah yang  dimaksudkan untuk mensejahterakan rakyat masih banyak menimbulkan permasalahan  yang terkadang justru merugikan rakyat. Walapun begitu, harus diakui juga masih  banyak yang memiliki hati nurani yang dapat berfungsi baik, memiliki moral dan  etika dalam berpolitik, dan berpikir dalam skala jangka panjang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Pentingnya Moral dan  Etika&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Pada hakekatnya, kejahatan dan perilaku yang menyimpang dapat  terjadi jika ada persentuhan antara niat dan kesempatan. Oleh karena itu,  walaupun pencegahan dan penindakan secara fisik sangat diperlukan, tidak boleh  dilupakan upaya menghilangkan niat berbuat dan berperikau jahat atau tidak  benar.&lt;br /&gt;Di sinilah perlunya masalah moral dan etika diketengahkan. Moral  merupakan nilai yang menentukan baik-buruk, benar-salah, yang akan dirasakan  oleh manusia yang meyakini hidup ini punya makna. Moralitas adalah norma atau  standar tingkah laku yang didasarkan atas pertimbangan benar-salah, baik-buruk.  Persoalan moral adalah bagaimana manusia menahan diri sendiri, menunda  kesenangan atau keinginan dan tidak hanya mementingkan diri sendiri. Lain halnya  dengan binatang yang tidak bisa mengendalikan diri, karena binatang tidak  memiliki moral. Moral bersifat normatif dan imperatif yang diungkapkan dalam  kerangka baik dan buruk yang dianggap sebagai nilai mutlak atau transenden,  yaitu keseluruhan dari kewajiban-kewajiban manusia. Moral mengacu pada baik  buruknya manusia terkait dengan tindakannya, sikapnya, dan cara pengungkapannya  (Haryatmoko, 2003).&lt;br /&gt;Jadi, moral merupakan hal yang harus dilakukan manusia.  Moral menunjuk kualitas dan martabat kepribadian manusia. Tingkat moral  merupakan harkat dan martabat manusia secara normatif. Pribadi yang dapat  menegakkan kebenaran dan keadilan sebagai kebajikan, serta menegakkan hak asasi  yang seimbang dengan kewajiban asasi adalah contoh manusia yang memiliki  kesadaran moral yang memadai. Sedangkan etika membahas makna moral, merupakan  pemeliharaan sistematis tentang moralitas atau menyangkut upaya menjadikan  moralitas sebagai landasan berperilaku. Dalam Islam bisa disebut akhlak sebagai  pranata perilaku yang didasarkan pada nilai ihsan, nilai iman, dan nilai Islam.  Sering dikenal akhlakul karimah yang bersumbar pada nilai Ilahiah (al-Qur’an dan  Sunnah) yang mengatur ibadah dan mu’amalah, dan nilai Duniawi yang tidak  bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Menurut etika Islam, akhlak  harus berkualifikasi ihsan untuk mencapai al-Islam. Pengtingnya akhlak mulia itu  sesuai dengan Hadist Rasulullah SAW “ Sesungguhnya tidaklah aku diutus kecuali  untuk menyempurnakan keutamaan akhlak.”&lt;br /&gt;Etika politik merefleksikan kualitas  moral para pelaku politik dan sekaligus masalah tatanan hidup kemasyarakatan,  hukum, keadilan, karena etika politik akan berpegang pada nilai-nilai, norma,  etik, dan moral. Etika politik melandaskan pada nilai keluhuran dan moral, dan  tidak bertolak dari pandangan Machiavelli yang dijuluki teacher of evil karena  membolehkan cara-cara yang jahat untuk mencapai tujuan. Etika politik merupakan  abstraksi moral untuk memberi arti bagi kehidupan politik, yang pada gilirannya  akan memacu berfungsinya hati nurani para pelaku politik yang dimanifestasikan  dalam tindakan. Etika politik menunjukkan tentang baik-buruk, benar-tidaknya  tingkah laku dan tindakan politik, sekaligus menyoroti kewajiban-kewajiban  pelaku politik yang harus diikuti agar bersikap dan berperilaku benar, lurus,  bersih, terpuji, dan konsisten memperjuangkan kesejahteraan rakyat.&lt;br /&gt;Ada tiga  dimensi etika politik, yaitu tujuan politik, sarana, dan tindakan politik  (Benhard Sutor, 1991). Tujuan dapat dilihat misalnya apakah ada upaya mencapai  kesejahteraan rakyat (bukan pribadi), kedamaian (bukan kebringasan, kekerasan,  chaos dan anarki), keadilan (bukan ketimpangan), kebebasan (bukan pengekangan  dan penekanan). Indikasinya akan terlihat seberapa jauh substansi pencapainnya.  Sedangkan dimensi sarana untuk mencapai tujuan dapat dilihat dalam sistem  politik yang berlaku, adanya good governance and clean government, tersedianya  aturan yang baik, dan sebagainya. Dimensi tindakan dapat dilihat pada tindakan  para politisi yang pencapaiannya terletak pada rasionalitas tindakan politik dan  pendasarannya pada moralitas dan harus memperhitungkan berbagai segi yang tidak  melukai hati rakyat dan rasa keadilan, tetapi untuk kesejahteraan  rakyat.&lt;br /&gt;Reformasi yang diharapkan dapat mewujudkan kehidupan demokrasi yang  sehat, ternyata belum dapat menampakkan substansi dan rasionalitasnya. Dalam  demokrasi juga mengenal etika agar dapat berlangsung dengan sehat dan  berkeadaban. S.L. Carter (1998) mengetengahkan pentingnya nilai-nilai keadaban  (civility) dikukuhkan dalam praktik kehidupan demokrasi. Civility merupakan  suatu konsep pembangunan politik yang mengetengahkan kesopanan, kesantunan, tata  krama, kejujuran, keadilan, moral dan etika dalam kehidupan demokrasi. Etika  demokrasi menuntut saling menghormati dan menghargai, santun dan beradab dalam  memberikan kritik, menuntut pengorbanan bagi orang lain dan menuntut terciptanya  kehidupan moral dan mengikuti norma-norma yang berlaku. Civility mengharuskan  adanya kesetaraan, dialog, kompromi, dan toleransi, serta tidak ada satu  pihakpun yang berhak memaksakan kehendaknya, tetapi menuntut sikap empati dan  berfungsinya hati nurani yang terwujud dalam perilaku politik yang santun.  Sedangkan Carol Gould (1993) menunjukkan unsur-unsur karakter yang demokratis  antara lain resiprositas, toleran, fleksibel dan terbuka. Demokrasi juga  mengembangkan pertisipasi dan kebebasan (bukan “keblablasan”) tetapi tetap dapat  menciptakan stabilitas yang dinamis dan akuntabel.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Peran Pemimpin dan  Elite Politik&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dalam membangun moral dan etika politik, para pemimpin  dan elite politik harus dapat dijadikan sebagai teladan, menjadi sosok yang  dapat memberi contoh dan menjadikan dirinya sebagai contoh yang bermoral dan  beretika dalam bersikap dan berpelilaku. Pemimpin dan elite politik harus bisa  menunjukkan dan memulai dari dirinya sendiri (ibda bi nafsik). Semetara itu,  dalam memilih pemimpin dan elite politik kriterita dari segi moral dan etika  juga harus dikedepankan. Partai politik yang memiliki peran penyiapan  kader-kader pemimpin politik dan memperjuangkannya untuk menempati jabatan  politik, harus melakukan seleksi yang ketat dalam rekruitmen dengan kriteria  yang jelas dan tegas dari segi maralitas, adil, jujur, dan trasparan. Partai  politik harus menjauhi praktik yang tidak bermoral dan tidak beretika, misalnya  “menjual” atau “meminjamkan” partai untuk kendaraan dan batu loncatan untuk  mobilisasi massa bagi meraih kekuasaan belaka, seperti dalam Pilkada.&lt;br /&gt;Di  samping itu, masih banyak partai politik juga belum sepenuhnya dapat  melaksanakan fungsinya secara baik dan utuh untuk memerankan diri sebagai pilar  demokrasi. Sebagian Parpol terperangkap oleh kepentingan pribadi para elitenya,  bukan kepentingan konstituennya atau kepentingan rakyat, bangsa, dan negara.  Kebanyakan Parpol belum secara cepat dan jelas menangkap, mengartikulasi dan  mengagregasikan kepentingan rakyat. Fungsi pendidikan politik rakyat juga jarang  terprogramkan, sementara fungsi sebagai sarana perekat persatuan dan kesatuan  bangsa serta manajemen konflik belum merupakan prioritan Parpol, tetapi yang  sering nampak dalam beberapa kejadian adalah sikap loyalitas yang sempit,  primordialisme, politik aliran, mau menang sendiri, bahkan dalam beberapa hal  mengesampingkan prinsip moral dan etika. Itu semua menjadi tantangan Parpol  untuk meningkatkan citranya untuk membangun demokrasi yang sehat dan  kuat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Reformasi telah melahirkan kebebasan, namun  terkadang timbul kebebasan yang melampaui kebebasan demokrasi dan justru  bertentangan dengan demokrasi. Semetara masih banyak pejabat negara dan elite  politik yang tidak bisa memberi contoh yang baik bagaimana berpolitik atau  berdemokrasi yang sesuai dengan nilai, norma, karakter, dan etika politik dan  demokrasi. Pada hal demokrasi harus diperjuangkan secara terus-menerus baik dari  segi kelembagaan, tradisi, budaya demokrasi, dan perilaku yang  demokratis.&lt;br /&gt;Para pemimpin dan elite politik memiliki peran besar dalam  penyelenggaraan negara dan m enjayakan demokrasi. Peran itu harus ditunjukkan  dalam perilaku dan praktik yang baik yang dilandasi oleh moral dan etika,  mematuhi sistem ketatanegaraan serta bersikap dan berperilaku sebagai negarawan.  Pembangunan moral dan etika harus menjadi suatu gerakan, juga menjadi basis  pendidikan, serta kegiatan kemsyarakatan dan kenegaraan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia,palatino;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Abdoel Fattah,  &lt;em&gt;doktor ilmu politik, dosen, dan staf ahli di MPR RI.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;font-size:85%;"&gt;sumber:  www.google.com&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4916369108223596888-5086874085545836515?l=kapmepibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kapmepibali.blogspot.com/feeds/5086874085545836515/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4916369108223596888&amp;postID=5086874085545836515' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4916369108223596888/posts/default/5086874085545836515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4916369108223596888/posts/default/5086874085545836515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kapmepibali.blogspot.com/2008/07/reformasi-dan-etika-politik.html' title='Reformasi dan Etika Politik'/><author><name>Kapmepi Bali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15206985610515249464</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
